Faktor-faktor Pendorong Renaissance Islam

Jatuhnya Aceh ke tangan kekuasaan Belanda pada dasarnya merupakan salah satu bagian jatuhnya dunia Islam kedalam kekuasaan bangsa Eropa. Pada akhir abad ke-19 hampir seluruh negara-negara Islam di dunia ini telah berada di bawah kekuasaan penjajahan Barat. Untuk mematahkan perlawanan-perlawanan Islam di Indonesia ini pemerintahan Belanda harus mengeluarkan biaya keuangan yang besar dan kurban kemanusiaan yang tidak sedikit, sehingga harus mengambil kebijakan yang lebih hati-hati, tetapi kemenangan pihak belanda mengakibatkan pihak Islam menjadi lesu, kehilangan semangat dan putus asa. Mereka manjadi menyerah kalah dan merasa rendah diri. Pada hal ajaran Islam mendorong umatnya supaya giat berusaha tanpa menyerah. Tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama, jalan ke arah kebangkitan sosial, politik dan keagamaan terbuka bagi berbagai wilayah di Indonesia khususnya, dan di kawasan Asia Tenggara pada umumnya. Gerakan puritanisme yang di Ilhami oleh kaum Wahabi sebagai telah dilakukan di Sumatera Barat pada dua dasa warsa pertama abad ke-19 rupanya telah meninggalkan kesan yang cukup mendalam dan abadi di berbagai bagian Indonesia serta memberikan kesiapan mental untuk menyambut datangnya renaissance (kebangkitan) Islam. Pengobar semangat kebangkitan Islam ini seperti telah sering terjadi sebelum adalah berasal dari luar negeri, perubahan-perubahan sosial-politik yang dilakukan oleh pemerintahan Belanda untuk lebih memperhatikan kesejahteraan rakyat sebagai akibat politik etis yang diajukan oleh Mr. Tn. Van Deventer kiranya ikut pula mempercepat bangkitnya gerakan Islam untuk mewujudkan cita-citanya ke arah reformisme dan modernisme.
awichan.blogspot.com

Faktor pendorong pertama bagi renaissance Islam adalah reformisme dan modernisme Islam yang berasal dari Sayid Jamaluddin al Afghani (1838-1897). Ia adalah putra dari Sayid Saftar dan lahir pada 1838 di Asad-abad, sebuah dusun dekat Kabul di Afganistan/ jamaluddin al-Afgani adalah seorang sarjana yang tekun dalm mempelajari Ilmu di manapun ia berada, ia mempelajari bahasa Arab, ilmu agama, dan ilmu-ilmu pengetahuan Barat. Ia mula-mula belajr di negerinya sendiri, ialah di Kabul, kemudian berbagai negeri ia kunjungi, ialah: Iandia, Mekkah (Arab), Mesir, Inggris, Prancis , dan Istanbul (Turki). Peranannya sebagai pembaharu Islam, ia mulai di Mesir. Ia mengajar di Universitas al-Azhar, di mana ia memberikan kuliah dalam matakuliah ilmu kesusasteraan, tauhid, filsafat, tasawuf, usul fikih, ilmu falak dan lain-lain. Seorang murid nanti akan meneruskan karya-karya pembaruannya adalah Syekh Muhammad Abduh. Seluruh hidupnya ia dedikasikan bagi pejuang umat Islam, ia juga seorang pengarang dan ahli pidato ulung. Keahliannya yang terakhir ini sangat membantunya dalam menyentakkan umat Islam dari tidurnya dan dengan semangat baru ia berusaha menegakkan kembali kejayaan Islam.


Negeri yang terakhir ia kunjungi adalah Istanbul ( Turki ) ia datang ke sana atas undangan Sulatan Hamid. Lima tahun ia menetap di Istanbul dan wafat di  sana pada 9 Maret 1897. Sesudah Perang Dunia II, makamnya dipindahkan dari Istanbul (Turki) ke kota Kabul (Afganistan) tempat kelahirannya.


Peranan yang tidak kalah pentingnya dalam reformisme dan meodernisme Islam adalah yang dilakukan oleh Syekh Muhammad Abduh (1849-1905), ia merupakan penerus cita-cita gurunya, Jamalulddin al-Afgani. Muhammad Abduh dengan beraninya membasmi konservatisme yang menyelimuti seluruh dunia Islam. Usaha pembaruannya menggelombangkan ke seluruh penjuru dunia, sampai pula ke Indonesia. Gagasan-gagasannya di bawa pula oleh pemuda-pemuda Indonesia yang belajar di Mesir atau di Mekkah.


Pengaruh reformisme dan modernisme, kedua peletak dasar pembaharuan Islam itu di Asia Tenggara dan di Indonesia tidak hanya memperkuat kesadaran ciri yang besar di antara umat Islam dan bangkitnya semangat juang yang ortodoks sebagai telah ditimbulkan oleh pemikiran-pemikiran kaum Wahabi, tetapi juga berusaha menjauhkan Islam dari pengaruh-pengaruh negatif sinkretisme an sufisme Asia Tenggara dengan melakukan tindakan-tindakan positif untuk menyesuaikan Islam dengan kebutuhan dunia modern.


Faktor pendorong kedua dari luar adalah reformisme dan modernisme dari India, pengaruh dari India ini memang kurang begitu spektakuler, namun secara Intelektual tak dapat diabaikan. Karya-karya tulis Amir’Ali, Maulana Muhammad Ali dan juga karya tulis Muhammad Iqbal merupakan sumber Inspirasi dan sumber motivasi bagi beberapa tokoh pembaharu yang terkemuka di Indonesia.


Faktor pendorong yang paling penting bagi timbulnya renaissance Islam di Indonesia adalah pengaruh para Haji Indonesia sendiri yang pulang dari tanah suci. Sejal abad ke -19 jumlah orang Indonesia yang melakukan Ibadah Haji ke Mekkah semakin bertambah. Pegaruh politik kemakmuran Belanda (welvaartpolitiek) meningkatkan secara dramatis jumlah jamaah haji Indonesia. Pada 1911 stastistik Belanda mencatat lebih dari 24.000 orang Indonesia yang naik haji ke Mekkah suatu jumlah yang mencakup 30% dari seluruh jamaah haji dan seberang lautan, jumlah itu semakin memuncak untuk tahun-tahun berikutnya.


Para haji yang baru saja pulang dari tanah suci tidak saja menjadi teladan-teladan hidup dan penyebaran-penyebaran iman Islam, tetapi yang lennih penting lagi mereka tampil sebagai tokoh-tokoh pembaharu dalam Islam. Koloni Jawa di Mekkah merupakan tempat pertemuan bagi tokoh-tokoh Islam Indonesia yang sedang melakukan ibadah haji di sana. Dan di situlah mereka menerima gagasan-gagasan baru mengenai Islam, untuk kemudian dibawa pulang ke Tanah Air. Pengaruh mereka nampak dari kenyataan bahwa anggota-anggota mereka sering begitu memainkan peranan yang penting dalam masalah-masalah Muslim tidak saja di Indonesia, bahkan juga di Asia Tenggara.


Ibadah haji memiliki pula pengaruh sosial-ekonomi. Status haji memberikan gengsi yang tinggi di dalam masyarakat, lebih-lebih dalam masyarakat pedesaan. Kekayaan mereka sebagai hasil membiayai perjalanan naik haji dengan demikian dilegistimasi oleh Islam. Juga Ibadah haji membuka desa dari isolasinya yang memungkinkan terjadinya hubungan antara Islam kota pelabuhan (pesisiran) dengan Islam pedesaan (pedalaman), suatu hal yang sangat penting sebagai perantara perubahan sosial-ekonomi.


Para pedagang orang-orang Arab juga memaikan peranan yang sangat penting dalam pembaharuan kehidupan keagamaan di Indonesia di masa lampau. Pedagang-pedagang Arab, juga beberapa Ulama telah berabad-abad lamanya ikut membentuk masyarakat-masyarakat pelabuhan atau pantai di kepulauan Nusantara, bahkan kadang-kadang mereka menetap di sini. 


Dalam masa-masa yang lebih akhir banyak orang-orang Arab yang memperoleh kedudukan sebagai penasihat agama di Istana-istana kerajaan dan dalam beberapa kasus memperoleh kekuasaan politik aktual. Jumlah mereka yang datang ke Indonesia meningkat sesudah abad ke-19, khususnya setelah 1870, ketika pemerintah Hindia Belanda memberikan kesempatan-kesempatan berusaha yang lebih longgar di bidang ekonomi bagi orang-orang Timur Asing termasuk orang-orang Cina. Antara 1859 sampai 1885 jumlah orang Arab di Indonesia meningkat 7000 orang menjadi lebih dari 20.000 orang. Mereka kebanyakan berasal dari Hadramaut. Minat usaha mereka terutama dibidang perdagangan. Sebagai orang Islam mereka adalah orang Islam yang sungguh- sungguh. Mereka adalah orang Islam orthopraks ( yang mengutamakan kesesuaian antara tindakan atau perbuatan dengan ajaran agama). Dengan sifat-sifat yang demikian dan ditambah dengan penghormatan yang diberikan kepada setiap orang Arab (yang sering dipandang sebagai keturunan Nabi) jelas memberikan pengaruh yang besar di mata orang-orang Indonesia yang seagama. Pembatsan-pembatasan dari pihak Belanda terhadap kegiatan orang Arab di luar daerah perkotaan untuk menghindari pengaruh ekonomi dan pengaruh agitatif mereka sering tidak berhasil. Sebagai mana pelopor-pelopor penyebaran iman Islam yang aktif mereka bersikap keras, meskipun kadang-kadang menjadi agak konservatif.

Belum ada Komentar untuk "Faktor-faktor Pendorong Renaissance Islam "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel